Titik Nol
Titik Nol

Buleleng Gak Cuma Fokus Titik Nol! Bupati: Rp70 Miliar Sudah Disiapin Buat Jalan Rusak

nomadiqshelters.com – Belakangan ini, warga Buleleng lagi ramai ngebahas soal isu “Titik Nol Elit, Jalan Sulit”. Tagline ini muncul dari aksi unjuk rasa kawan-kawan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Cipayung Plus di kantor DPRD Buleleng. Mereka ngerasa kalau pemerintah daerah terlalu sibuk “bersolek” di pusat kota, tapi lupa sama kondisi jalan di pelosok yang masih banyak berlubang.

Read More : Logo Buleleng

Biar gak simpang siur, Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, akhirnya buka suara dan meluruskan persepsi tersebut. Yuk, simak terus sampai selesai.

Titik Nol Itu Buat Siapa, Sih?

Bupati Sutjidra gercep menanggapi kritik “elit” yang dilontarin mahasiswa. Menurut beliau, istilah elit itu agak kurang tepat. Kawasan Titik Nol Singaraja bukan dibangun buat segelintir orang kaya atau kalangan tertentu doang, melainkan sebagai ruang publik (public space) biar warga punya tempat buat kongko, berinteraksi, dan seru-seruan bareng keluarga.

“Yang elit itu apa sih? Ini kan buat masyarakat berinteraksi. Kita enggak bisa nolak kehadiran warga di kawasan Titik Nol. Jadi coba lihat sendiri, yang datang ke sini itu siapa? Masyarakat umum dari berbagai daerah, mulai dari Karangasem, Tangerang, sampe Malang dan Banyuwangi juga ada,” jelas Pak Bupati dengan santai pas ditemui wartawan, Kamis (9/7/2026).

Realita Infrastruktur, Gak Cuma Soal Aspal

Pak Bupati paham banget kok keresahan warga. Tapi, beliau ngasih edukasi kalau definisi infrastruktur itu luas banget, gak cuma sebatas perbaikan jalan. Pemerintah punya tanggung jawab buat ngurusin sektor krusial lainnya kayak pendidikan, kesehatan, sampe pariwisata yang jadi tulang punggung ekonomi Buleleng.

“Banyak yang mikir infrastruktur itu cuma soal jalan. Padahal, pendidikan dan kesehatan itu juga kebutuhan dasar yang harus kita penuhi. Dan puji syukur, sektor-sektor itu sudah kita perhatikan dan penuhi semua kebutuhannya,” tambah orang nomor satu di Buleleng ini.

Tantangan Jalan Terpanjang di Bali

Perlu dicatat nih, kawan-kawan, Buleleng itu punya ruas jalan terpanjang di Bali. Bayangin betapa beratnya beban pemeliharaan yang dipikul Pemkab. Belum lagi mewarisi banyak ruas jalan yang kondisinya emang udah “babak belur” dari tahun-tahun sebelumnya.

Terkait perbaikan jalan, Pemkab Buleleng sebenernya udah menyiapkan dana segar senilai Rp70 miliar lewat APBD 2026. Angka yang fantastis, kan? Tapi, realisasi di lapangan emang punya tantangan sendiri yang gak gampang.

Kenapa Perbaikan Jalan Kadang Terhambat?

Ada satu hal penting yang harus kita tau, yaitu dampak ekonomi global. Perang yang terjadi di Timur Tengah (Iran vs Amerika-Israel) bikin harga material bangunan melonjak drastis. Efeknya apa? Banyak paket tender perbaikan jalan yang kurang diminati kontraktor karena harga penawaran masih pakai standar lama.

“Syukurnya, proyek Titik Nol udah kontrak dari Januari, walaupun kontraktornya mungkin ngerasa ‘babak belur’ buat nyelesainnya. Kondisi serupa juga terjadi di penataan Lovina,” ungkap beliau.

Baca juga: Kasus Panti Asuhan Bikin Heboh, DPRD Buleleng Minta Perlindungan Anak Diperketat

Masa Depan Digital Buleleng

Gak cuma fokus di fisik, Pemkab Buleleng juga lagi tancap gas di sektor digital. Sebanyak Rp100 miliar udah disiapin buat revitalisasi sekolah, dan infrastruktur digital pun diperkuat. Kenapa? Karena Buleleng bakal jadi pilot project digitalisasi bantuan sosial (bansos). Tanpa data yang akurat lewat digitalisasi, perencanaan program buat masyarakat malah bisa meleset.

Jadi, bisa dibilang pembangunan di Buleleng saat ini lagi jalan beriringan. Mulai dari renovasi fisik biar kota makin cakep, perbaikan jalan yang dicicil progresnya, sampe layanan digital yang bikin urusan warga jadi sat-set. Pak Bupati mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, untuk terus melakukan pengawalan konstruktif.

Diskusi-diskusi terbuka seperti ini justru dianggap sebagai energi positif buat pemerintah supaya gak “lupa daratan” dan terus semangat kerja buat kemajuan Buleleng. So, tetap kawal pembangunannya ya, biar dana Rp70 miliar itu bener-bener dirasakan manfaatnya sampai ke ujung pelosok desa!