Nomadiqshelters.com – Baru jalan kurang dari sebulan, TPS3R Sesetan di Denpasar langsung jadi sorotan. Bukan karena prestasi, tapi karena membludaknya warga yang datang buang sampah. Bahkan sempat viral di media sosial, tumpukan sampah sampai meluber ke pinggir jalan. Awalnya, fasilitas ini memang disiapkan buat warga Sesetan dan Pedungan. Tapi kenyataannya, banyak juga warga dari luar wilayah yang ikut โnumpang buangโ. Alhasil, kapasitas TPS3R jadi kewalahan.
Pengawas TPS3R, I Wayan Suarta, bilang kalau volume sampah sekarang udah di luar batas normal. Dalam sehari, sampah yang masuk bisa tembus 15 ton. Yang bikin makin berat, sekitar 70 persen adalah sampah organik, terutama dari upakara.
Aturan Baru Mulai Disiapkan, Wajib Bawa Identitas
Buat ngatasin masalah ini, pengelola lagi nyiapin aturan baru. Rencananya, warga yang mau buang sampah harus nunjukin KTP biar jelas domisilinya. Kalau pendatang? Nggak bisa sembarangan juga. Mereka bakal diminta surat keterangan domisili dari kepala lingkungan setempat. Tapi di sisi lain, petugas masih serba salah. Kalau langsung ditolak, takutnya malah bikin konflik di lapangan. Soalnya, sampah di jalanan juga udah numpuk parah.
Warga Diminta Pilah Sampah dari Rumah
Karena dominasi sampah organik tinggi, warga sekarang diwajibkan buat pilah sampah dari rumah. Jadi, sebelum masuk ke mesin pencacah, sampah harus udah dipisah.Langkah ini penting banget. Soalnya, kalau sampah udah terpilah, kerja mesin dan petugas jadi lebih cepat dan efisien. Edukasi ke masyarakat juga terus digencarkan, walau memang kesadaran tiap orang beda-beda.
Saat ini, TPS3R masih tahap uji coba sejak dibuka 25 Maret 2026. Layanannya masih gratis, tanpa retribusi. Jam buang sampah mulai pukul 06.00โ12.00 WITA, dan operasional penuh sampai 18.00 WITA. Khusus hari Rabu, TPS tutup mengikuti jadwal TPA Suwung.
TPA Bengkala Berubah, Hanya Terima Sampah Residu
Di sisi lain, Pemkab Buleleng juga mulai ambil langkah tegas. Mulai 1 Mei 2026, TPA Bengkala cuma bakal terima sampah residu, alias sisa yang nggak bisa diolah lagi.Artinya, sampah organik udah nggak boleh masuk ke sana. Kebijakan ini diambil karena kondisi TPA yang udah overload dan nggak layak lagi. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, menegaskan kalau sistem open dumping bakal dihentikan paling lambat akhir Juli 2026. Sebagai gantinya, pemerintah bakal fokus ke Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS).
Semua Harus Ikut Andil, Nggak Bisa Setengah-Setengah
Pemerintah juga udah mulai sosialisasi ke berbagai pihak, dari pejabat daerah sampai kepala desa. Harapannya, mereka bisa jadi contoh buat masyarakat dalam hal pengelolaan sampah. Ke depan, pengangkutan sampah juga bakal disesuaikan berdasarkan jenisnya. Jadi, sampah yang diambil harus sudah terpilah dari awal. Intinya simpel masalah sampah ini nggak bisa diselesaikan sendirian. Semua harus ikut terlibat, mulai dari rumah. Kalau nggak, kejadian kayak di TPS3R Sesetan bisa terus terulang.

