Disbudpar Buleleng
Disbudpar Buleleng

DAK Non-Fisik Disbudpar Buleleng Kena Pangkas Rp200 Juta, Ini Dampaknya Bagi Pelestarian Budaya!

nomadiqshelters.com – Kabar kurang mengenakkan nih buat para pegiat budaya di Buleleng! Tahun 2026 ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Buleleng harus ikhlas menerima kenyataan kalau Dana Alokasi Khusus (DAK) non-fisik mereka mengalami penurunan alias kena “sunat” sebesar Rp200 juta.

Read More : Cuaca Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali

Wah, kira-kira gimana ya nasib kegiatan pelestarian budaya ke depannya? Yuk, kita bedah bareng-bareng!

Alur Naik Turunnya Anggaran, Dari Rp800 Juta Balik ke Angka Awal

Kalau kita intip riwayat anggarannya, sebenarnya Disbudpar Buleleng sempat ngerasain masa-masa “makmur” nih. Pada tahun 2022, mereka dapet jatah DAK non-fisik sebesar Rp600 juta. Nah, di tahun 2023 sampai 2025, angkanya sempat naik jadi Rp800 juta. Seneng dong ya, karena otomatis ruang gerak buat bikin acara kebudayaan jadi lebih luas.

Tapi, roda berputar, kawan. Di tahun 2026 ini, angkanya justru balik lagi ke posisi Rp600 juta. Penurunan Rp200 juta ini tentu jadi tantangan tersendiri buat dinas terkait dalam merancang agenda sepanjang tahun.

Kebijakan “Efisiensi” Pemerintah Pusat, Apa Alasannya?

Kepala Disbudpar Buleleng, I Nyoman Wisandika, buka suara soal kondisi ini. Menurut beliau, penurunan ini murni kebijakan dari pemerintah pusat yang sifatnya menyeluruh. Jadi, bukan cuma Disbudpar Buleleng aja yang “diet” anggaran, tapi hampir semua sektor di kementerian lain juga merasakan hal yang sama.

Wisandika menegaskan kalau kebijakan efisiensi ini emang lagi digalakkan untuk penyesuaian skala nasional. Bahkan, kegiatan pembinaan keagamaan kayak Utsawa Dharma Gita yang biasanya didukung Kementerian Agama pun ikut kena dampaknya. Jadi, ini bukan masalah kinerja daerah, tapi emang situasi ekonomi nasional yang lagi nuntut pemerintah pusat buat lebih ketat lagi soal pengeluaran anggaran.

Apa Saja Kegiatan yang Terancam?

Selama ini, DAK non-fisik itu ibarat “bensin” buat operasional Museum Gedong Kirtya. Banyak banget kegiatan keren yang didanai dari sini, seperti:

1. Ajang Kompetisi Budaya

Lomba baca lontar, lomba bahasa Bali buat anak SMA/SMK, sampai macecimpedan (tebak-tebakan tradisional) buat anak SD. Ini penting banget buat ngenalin budaya ke generasi muda.

2. Pameran Budaya

Acara pameran prasi dan pameran obat-obatan tradisional yang sering jadi daya tarik warga.

3. Perawatan Koleksi

Ini yang paling krusial. Dana ini di pakai buat beli bahan pengawet naskah lontar. Tanpa perawatan yang oke, naskah kuno yang berharga itu bisa rusak dimakan usia.

Meski duitnya berkurang, pihak Disbudpar komitmen kalau kegiatan pelestarian budaya tetap bakal jalan. Ya, mungkin nantinya bakal ada penyesuaian teknis atau skala acaranya yang harus lebih efisien, biar “ruh” dari setiap event tetap terjaga tanpa harus keluar biaya berlebih.

Bagaimana dengan DAK Fisik?

Nah, kalau ditanya soal DAK fisik (buat pembangunan gedung atau sarana prasarana), ternyata Buleleng udah lama nggak dapet, Guys. Wisandika bilang, sejak era kepemimpinan Pj Bupati Buleleng, Ketut Lihadnyana, kucuran DAK fisik itu emang udah berhenti mengalir ke sektor ini.

Jadi, untuk urusan renovasi atau penambahan fisik bangunan. Disbudpar harus bener-bener kreatif nyari celah pendanaan lain atau mengandalkan anggaran yang ada secara mandiri.

Baca juga: Batal Tampil di Kejuaraan Dunia, Isu Pungli Atlet Angkat Berat di Buleleng Jadi Sorotan

Pesan untuk Generasi Muda Buleleng

Walaupun anggaran lagi “seret”, bukan berarti semangat melestarikan budaya di Buleleng harus ikutan lesu. Justru, ini jadi momen buat komunitas, sekolah, dan masyarakat buat makin kolaboratif. Budaya Bali, terutama tradisi di Buleleng, adalah jati diri kita yang nggak ternilai harganya.

Ke depannya, semoga ada solusi kreatif atau dukungan dari sektor swasta (lewat CSR) buat menutup celah anggaran yang hilang ini. Kita berharap, Museum Gedong Kirtya tetap jadi pusat pengetahuan dan kebanggaan masyarakat Buleleng, terlepas dari berapa pun angka DAK yang turun. Tetap semangat melestarikan warisan leluhur ya, semeton!